Elektrifikasi Rangkasbitung–Merak Meningkatkan Konektivitas dan Pertumbuhan Wilayah Baru

Setiap akhir pekan, masyarakat sering kali mencari cara untuk melepaskan penat dari rutinitas harian. Ada yang memilih untuk menjelajahi destinasi baru, sementara yang lain melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumatra menggunakan moda transportasi massal. Dalam konteks ini, kereta api muncul sebagai salah satu pilihan perjalanan yang menawarkan kenyamanan dan harga yang terjangkau.
Perkembangan Penggunaan KRL di Lintas Rangkasbitung
PT Kereta Api Indonesia (Persero) melaporkan bahwa jumlah pengguna KRL di jalur Rangkasbitung menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2022, pengguna mencapai 43.317.716 orang, dan angka ini terus meroket hingga 62.085.471 pengguna pada tahun 2023. Diperkirakan, pada tahun 2024, jumlah ini akan meningkat menjadi 69.999.362 pengguna, dan diprediksi kembali naik menjadi 77.552.716 pada tahun 2025. Bahkan, hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2026, jumlah pengguna telah mencapai 20.197.205 orang.
Angka-angka ini mencerminkan bagaimana lintas Rangkasbitung menjadi jalur vital bagi mobilitas masyarakat, terutama di daerah penyangga Jakarta yang terus berkembang.
Kolaborasi untuk Meningkatkan Layanan
Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, menjelaskan bahwa peningkatan layanan di jalur ini merupakan hasil kolaborasi yang erat dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
“Saat ini, elektrifikasi untuk jalur Tanah Abang-Rangkasbitung telah mencakup 72,769 km dengan jalur ganda. Pengembangan ini dilakukan bersama DJKA Kementerian Perhubungan, termasuk peningkatan infrastruktur dan kecepatan perjalanan KRL,” jelas Anne.
Manfaat Peningkatan Layanan KRL
Peningkatan layanan ini memungkinkan KRL untuk mengoperasikan rangkaian hingga 12 kereta (SF 12), sebuah peningkatan yang signifikan dari jumlah sebelumnya yang berkisar antara 8 hingga 10 kereta dalam satu rangkaian. Hal ini tentu saja meningkatkan kapasitas angkut dan memberikan kenyamanan lebih bagi para penumpang.
Perbaikan dalam infrastruktur dan operasional terus dilakukan, termasuk penyempurnaan jaringan elektrifikasi. Langkah-langkah ini berkontribusi pada pengaturan jarak antar perjalanan yang lebih efisien, sehingga frekuensi perjalanan meningkat dan waktu tunggu bagi penumpang menjadi lebih singkat.
Pergerakan Masyarakat di Lintas Rangkasbitung–Merak
Selain itu, pertumbuhan pergerakan masyarakat di jalur Rangkasbitung–Merak juga menunjukkan tren positif. Pada tahun 2023, layanan Kereta Api lokal mencatat 3.617.478 penumpang, meningkat menjadi 4.269.154 penumpang pada tahun 2024. Pada tahun 2025, angka ini kembali naik menjadi 4.463.498 penumpang, dan dalam tiga bulan pertama tahun 2026, sudah mencapai 1.134.514 penumpang.
Layanan Kereta Petani Pedagang
Lintas ini juga menyediakan layanan Kereta Petani Pedagang yang, pada triwulan pertama tahun 2026, telah melayani 11.349 pengguna. Layanan ini sangat penting bagi pelaku usaha kecil yang ingin menjual hasil pertanian mereka.
“Pertumbuhan pergerakan masyarakat di jalur ini sangat menggembirakan dan menunjukkan saling keterhubungan yang semakin baik. Pengembangan ke depan diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas, mendorong pertumbuhan kawasan hunian yang lebih terintegrasi, memperkuat aktivitas industri dan distribusi, serta mendukung konektivitas pariwisata hingga ke kawasan pesisir dan lintas pulau,” tambah Anne.
Tarif Terjangkau untuk Akses yang Lebih Baik
Saat ini, masyarakat dapat melakukan perjalanan dari Tanah Abang ke Merak dengan tarif yang sangat bersahabat. KRL Commuter Line untuk relasi Tanah Abang–Rangkasbitung dikenakan tarif hanya Rp8.000, dilanjutkan dengan KA Lokal Rangkasbitung–Merak dengan tarif sebesar Rp3.000.
Setibanya di Stasiun Merak, perjalanan dapat diteruskan menggunakan kapal penyeberangan menuju Pelabuhan Bakauheni. Tarif untuk kapal penyeberangan reguler berkisar Rp23.000 per orang, sementara untuk kapal ekspres harganya sekitar Rp85.000 per orang.
Akses Lintas Pulau yang Mudah
Rangkaian perjalanan ini semakin memudahkan akses lintas pulau. Setibanya di Bakauheni, penumpang dapat melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi menarik di Lampung, mulai dari pantai yang bersih, suasana pesisir yang tenang, hingga kuliner khas seperti seruit dan olahan hasil laut.
“Kereta api adalah bagian integral dari mobilitas masyarakat yang terus bergerak, menghubungkan kawasan perkotaan dengan wilayah lainnya. Dengan adanya konektivitas yang semakin baik, diharapkan semakin banyak masyarakat yang merasakan kemudahan dalam bepergian,” tutup Anne.



